you're reading...
Kolom Guru

Jangan Asal-asalan Melatih Guru

oleh ARBAI

ArbaiJudul di atas merupakan sebuah peringatan terhadap akan dilaksanakannya pelatihan guru untuk menyambut kurikulum 2013. Menurut rencana pelatihan ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juni. Guru-guru akan dilatih selama 52 jam atau satu minggu untuk memahami kurikulum 2013 yang akan digunakan pada awal tahun ajaran baru 2013/2014.

Pelatihan ini direncanakan untuk guru-guru kelas I, IV dari Sekolah Dasar, kelas VII dari SMP dan kelas X SMA/K ditambah kepala sekolah dari semua sekolah. Untuk SD, jumlah instruktur nasional yang akan dikerahkan sebanyak 531 orang. Mereka inilah yang akan melatih 8.610 guru inti. Kemudian, guru inti yang bertugas melatih 151.695 guru kelas. Untuk SMP, akan disiapkan 1.350 instruktur nasional yang akan melatih 19.880 guru inti. Mereka kemudian akan melatih 365.020 guru mata pelajaran. Adapun untuk SMA dan SMK akan ada 324 instruktur nasional yang melatih 2.982 guru inti.

Melihat begitu seriusnya Kemendikbud dalam mewujudkan terealisasinya kurikulum 2013 kita patut memberikan apresiasi yang begitu besar. Namun juga harus diperhatikan bentuk pelatihannya, jangan menggunkan metode ceramah yang secara massal dilakukan di dalam ruangan. Berdasarkan pengalaman pelatihan seperti ini hanya akan menghasilkan ngantuk massal bagi peserta pelatihan.

Kita tidak ingin pelatihan guru kali ini dilaksanakan asal-asalan. Seperti kata pepatah lama, “arang habis besi binasa tukang tempa payah saja,” merupakan  pekerjaan yang sia-sia, jika hanya dilaksanakanan dalam keadaan yang terburu-buru dan tidak didukung oleh waktu yang cukup.

Pelatihan harus bisa menyentuh budaya guru untuk berbagi pengetahuan dengan cara membentuk kelompok-kelompok kecil didalamnya yang disertai diskusi yang dibimbing oleh intstruktur. Dari sini akan terjadi interaksi dan bertukar pengalaman langsung sesama guru dan instruktur. Yang diharapkan akan lebih memantapkan pemahaman tentang suatu materi pelatihan dan akan melahirkan sebuah budaya belajar di antara mereka.

Dengan adanya pelatihan yang menekan pada diskusi diharapkan guru mampu menguasai materi sepenuhnya, dan bisa mempraktekkanya setelah pelatihan usai. Karena yang terjadi selama ini usai pelatihan guru biasanya kembali kepada kebiasaan awal. Budaya guru seperti itu tidak boleh terjadi lagi, harus ada perubahan.

Pun untuk mewujudkannya tidaklah mudah, karena tidak semua guru pro terhadap perubahan. Untuk itu guru harus diberikan motivasi dan semangat untuk mau belajar. Agar pelatihan benar-benar memiliki nilai yang bermakna.

Selanjutnya, ada yang lebih menarik lagi dalam pelatihan, biasanya akan ditutup dengan janji manis dari instruktur untuk berdiskusi secara lebih intensif melalui mailing list atau pun media lainnya. Hal ini dilakukan untuk memuaskan peserta tentang materi yang belum dikuasainya dalam pertemuan yang sudah dilalui selama satu minggu tersebut.

Pada kenyataannya ketika seluruh peserta bubar menuju daerah  masing-masing, diskusi intensif yang dijanjikan tidak juga bisa terlaksana. Dikarenakan banyaknya kendala, mulai dari keterbatasan koneksi, kesibukan guru, sampai dengan tidak terbalasnya email, maupun mailing list dari narasumber.

Lalu, untuk menyiapkan guru bermutu tidak bisa secara instan bisa kita dapatkan. Dibutuhkan sebuah rencana strategis yang tidak hanya melibatkan LPTK sebagai penghasil guru namun juga sistem pendidikan yang rekruetmennya mensyaratkan orang yang yang benar-benar berminat dan cerdas untuk menjadi guru.  Satu diantaranya dengan menggunakan tes psikologi.

Hal ini untuk mendapatkan calon guru yang kompeten dan mumpuni di bidangnya. Sehingga ketika lulusan LPTK tersebut turun ke lapangan, dia sudah benar-benar menjadi seorang guru yang memahami tugas dan fungsinya. Lahir dan batin. Konon kabarnya negara-negara yang pendidikanya bermutu seperti Finlandia dan Singapura menggunakan tes seperti ini untuk menyaring calon guru.

LPTK harus benar-benar selektif dalam mendapatkan calon guru dengan motivasi yang tinggi. Jika siswa yang masuk memiliki kemampuan yang rendah secara akademik dan dilandaskan financial, akan terlahir guru-guru yang bekerja secara tidak ikhlas. Yang tentunya hal tersebut akan berdampak besar terhadap kinerja yang diberikannya untuk anak didik di kemudian hari.

Akhirnya, kita berharap dengan tanpa mengecilkan jasa guru selama ini, akan ada perubahan pada kinerja guru dengan adanya pelatihan yang akan dilaksanakan. Agar penerepan kurikulum baru dapat mengangkat mutu pendidikan. Semoga.

*Penulis Guru SMPN 1 Kluet Timur, Aceh Selatan. Saat ini sedang mengikuti program Kependidikan dan kepengawasan di Magister Manajemen UGM Yogyakarta.

Dimuat di Harian Republika pada Senin, 11 Februari 2013.

About smpn2pagerwojo

Blog SMP Negeri 2 Pagerwojo, Tulungagung

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Banner


%d blogger menyukai ini: