you're reading...
Kolom Guru

MAHALNYA NILAI KOMITMEN DAN INTEGRITAS

Oleh Andi Nasrum*)

Andi NasrumEra globalisasi boleh saja semakin  kompleks. Teknologi boleh saja menjadi high-tech, tetapi efeknya tidak boleh mendominasi high-touch. Habibie menyebut high-touch dengan IMTAQ. Tetapi ada soft skill yang nyaris hilang dari kepribadian bangsa ini. Lebih kurang 66 tahun, Para the founding father kita telah menumbuhkembangkan beberapa karakter yang menjadi kekhasan bangsa kita. Sebutlah diantaranya, kesantunan, kejujuran, empati, tanggung jawab, dan lain-lain sebagainya. Agar karakter ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka daya fikir dan daya zikir perlu diintegrasikan dalam action-set manusia sebagai Khalifatul Allah Fil Ard. Namun terlepas dari ada tidaknya pergeseran nilai, yang menimpa bangsa kita, character building tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebagai Pemimpin Negara, provinsi, daerah atau lainnya nilai komitmen dan Integritas benar-benar harus dimiliki dan membumi dalam hati para pemimpi akan masa depan yang lebih baik.

Nilai Komitmen

Berapa sih nilai komitmen itu jika dibanding dengan kenaikan BBM? Komitmen tidak bisa dinilai dengan angka, atau rupiah. Naiknya harga minyak dunia akibat Iran yang diembargo tidak mempengaruhi tinggi rendahnya Komitmen. Komitmen juga tidak dianggarkan di APBN atau APBD. Sebaliknya karena seseorang tidak komit dengan dengan MOU nya bisa berakibat fatal. Seorang pemimpin yang tidak komit dengan konsensus yang disepakati tentu akan kehilangan kepercayaan dari yang dipimpinnya.  Begitu juga dengan pemimpin di sekolah. Kepala sekolah yang tidak komit dengan RAPBS akan kehilangan brand image dari guru dan siswanya. Orang akan kehilangan etos kerja untuk meraih aktualitas, hasrat untuk berprestasi, karena apa yang disepakati berbanding terbalik dengan apa yang akan dilaksanakan.

Komitmen juga bukan sembako tetapi adalah menu harian yamg mampu dirasakan oleh pemerhati pendidikan. Gagalnya suatu transformasi kepemimpinan sedikit banyaknya dipengaruhi oleh komitmen yang rendah. Bayangkan regulasi yang dibuat oleh lembaga eksekutif dan legislatif luar biasa idealnya, karena isinya adalah kajian yang dibuat para ahli di bidangnya. Namun fakta di lapangan tidak semua isinya itu mampu diterapkan oleh Eksekutif. Nampaknya political will masih lebih dominan dibanding political action. Dengan kata lain tidak semua pesan yang ada pada konstitusi itu mampu diimplementasikan oleh para birokrat daerah. Contoh konkrit yang bisa dijadikan perbandingan adalah bunyi pasal 1 ayat 1 UU NO 32 tentang Pemerintahan Otonomi Daerah bahwa tujuan Otonomi daerah itu antara lain: 1) untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; 2) untuk pelayanan publik; dan 3) untuk daya saing Daerah. Pertanyaan yang bisa diuji adalah apakah Pemerintah Daerah mampu menerapkan ketiga tujuan itu? Faktanya tidak semua daerah mampu melaksanakan amanat yang mulia itu. Mungkin sebagian daerah mampu meningkatkan tingkat kesejahteraan rakyat melalui pemberian subsidi dan tunjangan daerah bagi PNS, tetapi mayoritas daerah lain belum mampu melaksanakan isi dari satu pasal itu. Ada apa dengan inkonsistensi ini. Sebagai jawaban yang tergesa-gesa mungkin ditengarai oleh Komitmen yang rendah. Seperti apa komitmen pemimpin pendidikan kita secara nasional? Tanpa memberikan justifikasi yang berlebihan, ternyata komitmen yang dianut adalah Calculaif Commitment. Alasannya aksi yang dilakukan selalu didasarkan apakah kegiatan itu menghasilkan benefit atau ekonomi. Efek dominonya, mindset ini telah ditularkan secara pandemi sampai ke tingkat daerah.

Harga Integritas

Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, tidak peduli apakah dia orang besar atau kecil. Integritas bisa mengalami distorsi manakala diperhadapkan dengan hasil sesaat tanpa mempertimbangkan dampak yang diambil. Pada situasi yang seperti ini, seorang decision maker harus berjiwa besar.  Kata Schumaker  dalam bukunya Small is Beautiful menyatakan orang berjiwa besar itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dalam keadaan tidak menentu. Jika tidak terkendali maka seorang pemimpin tidak punya  power untuk mengendalikan bawahannya, karena dia tidak punya karakter yang bisa menjadi panutan. Nilai integritasnya dipertanyakan. Berapa sih harga integritas. Negeri yang kita cintai ini, mengajarkan bahwa dalam  hal bersikap dan berprilaku sebagai homo sosialis, kita harus menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perekatnya adalah NKRI. Walaupun kita berbeda-beda dalam suku, tapi Indonesia adalah satu. Bagaimana dengan rencana Pemerintah untuk menaikkan BBM? Apakah ini juga dalam rangka menjaga keutuhan Negara Republik Indonesia? Atau ini dalam rangka menjaga para pengusaha untuk menjual SDA dalam negeri ke Luar Negeri? Atau dalam rangka mengimpor bahan makanan pokok dari luar negeri? Lalu dimana integritas yang kita agung-agungkan itu? Apakah nilai integritas hanya slogan yang disosialisasikan pada saat mau duduk di kursi? Atau setelah duduk sudah lupa baca ayat?  Hal ini mengingatkan  pada sebuah hadits Rasulullah SAW yang menyebutkan 3 sifat orang munafiq, yaitu bohong ketika berbicara, tidak menepati janji dan berkhianat ketika diberi kepercayaan. Seolah-olah integritas merupakan oposisi dari kemunafikan. Orang yang memiliki integritas berarti jauh dari sifat hipokrit.

Komitmen dan Integritas harus dimulai dari diri sendiri. Konsep Nabi tentang “Ibda’ Binafsik” ternyata masih survive dan sesuai dengan kondisi sekarang untuk dipraktekkan. Nilai jualnya akan nampak manakala seorang diperhadapkan dalam kondisi sulit. Komitmen dan integritas akan resisten, ketika masa kecil seseorang sudah terbiasa diberikan tanggung jawab dan kemandirian untuk memecahkan masalah sendiri. Selain itu proses pembelajaran dalam mencapai prestasi dibelajarkan melalui kerja keras. Jangan diajarkan sesuatu yang berfokus pada hasil, tetapi pada proses. Implikasinya, peserta didik akan  mampu menghargai apa itu proses, yaitu sesuatu yang memerlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan. Saya kira konsep Puasa sangat tepat untuk mengajarkan nilai Komitmen dan Integritas. Dalam berpuasa, yang namanya mengaku beriman, tanpa memandang si Kaya dan si Miskin pokoknya berpuasa. Jadi No excuse bagi yang tidak Komitmen dan Integritas. Mari kita bangun bangsa ini dengan Komitmen dan Integritas. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan anda, saya, kita siapa lagi.

Mahalkah nilai Komitmen dan Integritas itu? Jawabnya  “May be Yes may be No”. (Tribun Timur)

————————————–

*Andi Nasrum, Guru SMP Negeri 1 Bulukumba Kabupaten Bulukumba, Provinsi   Sulawesi Selatan, sekarang Tugas Belajar di MM-UGM Jogjakarta.

Dimuat di Harian Tribun Timur, Makassar, Sulawesi Selatan.

About smpn2pagerwojo

Blog SMP Negeri 2 Pagerwojo, Tulungagung

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Banner


%d blogger menyukai ini: