you're reading...
Kolom Guru

DARI UJIAN NASIONAL KE TRIANGLE TEST

Oleh Andi Nasrum*)

Andi NasrumMono tes bukanlah istilah baru dalam korpus Pendidikan. Ujian Nasional sebagai pembuktian bahwa secara makro kualitas hasil dapat dipetakan secara nasional. Ujian Nasional bukanlah point tapi power untuk melanjutkan ke dunia pendidikan yang baru.  Implikasinya seorang siswa yang tidak memiliki bukti ujian nasional akan sulit untuk memasuki dunia  pendidikan yang baru.  Karena mereka tidak punya SIM yang diakui oleh lembaga Pendidikan.

Apa sih nilai ujian nasional itu? Bukankah lebih baik ujian lokal yang dibuat guru yang bersangkutan kemudian diujicobakan pada beberapa sekolah, kemudian dianalisis tingkat validitas dan reliabilitasnya? Efeknya, efisiensi anggaran ujian nasional bisa diminimalisir dan bisa dialokasikan untuk program lain di sekolah yang lebih mendesak?  Selain itu tingkat ketersediaan fasilitas pada tingkat lokal dan regional tidak berimbang. Alangkah naifnya mutu pendidikan di ujung timur jika dibandingkan dengan wilayah tengah dan barat? Bendera tanah air juga kan dua warna yang berarti negara kita memang menganut masyarakat yang pluralistik. Secara defacto memang sulit Hasil Ujian Nasional itu dijastifikasi sebagai satu-satunya detektor untuk mengukur tingkat mutu pendidikan secara nasional, tapi dia hanya salah satu alat ukur. Konsekuensinya Indonesia perlu alat uji lain untuk mengukur gradasi mutu pendidikan secara nasional.

Ujian Nasional

Peraturan Pemerintah  No 19 tahun 2005 pasal 68 menyatakan tujuan ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk (1) pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan; (2) dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (3) penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan; (4) pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Jadi No excuse bagi  Siswa yang tidak mengikuti ujian nasional, kecuali ada pertimbangan lain yang logis.

Sasaran ujian nasional ini adalah siswa yang secara de jure terdaftar pada satuan pendidikan. Mereka adalah gambaran masa depan bangsa. Jika mereka gagal dalam mencari jati selama proses pendidikan, maka kiamat kecil telah menunggu di depan mata.

Dimensi kognitif, afektif dan psikomotor belum mampu membumi dalam hati anak didik kita. Pikiran, hati dan aksi harus bekerja terintegrasi untuk mencapai tujuan pendidikan yang mulia yaitu kecerdasan anak bangsa.

Menjadi bangsa yang seimbang antara karakter mind-set, heartset-set and action-set agaknya masih dalam tahap opini, belum mampu diterapkan pada tahap implementasi.  Prilaku negatif anak didik kita akhir-akhir ini seolah menunjukkan bahwa triangle locus pendidikan (Orang tua, sekolah dan masyarakat) belum mampu mengendalikan efek negatif anak didik. Jika efek dominonya mengisyaratkan terjadinya prilaku negatif karena kurikulum, maka kurikulum untuk masyarakatlah yang perlu dibuat.    Selama ini yang berubah hanya kurikulum di sekolah, kedua lingkungan yang lain tidak memiliki kurikulum secara tertulis. Dengan kesimpulan sementara diperlukan adanya MOU antara ketiga lingkungan tersebut. Alasannya keberhasilan pendidikan adalah tanggung jawab ketiga komponen ini.

Kompetensi Guru

Pada pertemuan pertama di kelas, Guru sudah melakukan deteksi dini terhadap siswa. Setidaknya Guru sudah mengetahui latar anak didik. Yang berarti kompetensi kepribadian sudah melekat dari awal. Kompetensi yang lain akan terukur secara aktual dan faktual di sekolah.

Ketika pembelajaran ditransformasikan di kelas maka kompetensi yang muncul adalah pedagogik, karena pada aspek ini guru membelajarkan siswa sesuai dengan kemauan dan kemampuan siswa. Kompetensi profesional akan nampak pada penguasaan substansi isi mata pelajaran yang menjadi konsentrasi guru bersangkutan dan kemampuan IT, serta kompetensi sosial nampak ketika guru berinteraksi dengan orang lain. Gejala yang bisa diamati adalah fleksibilitas dalam merespon, pemahaman terhadap perspektif orang lain dan problem solving terhadap keragaman. Selain itu, guru yang profesional pun dihargai dengan pemberian sertifikasi, yang berarti profesi guru secara aksiologi sudah bermakna prestisius. Tetapi sebagai bentuk akuntabilitas profesi yang diembang, guru juga harus mengikuti uji kompetensi yang notabene tujuannya sebagai dasar pemetaan kompetensi guru dan dasar pembinaan profesi berkelanjutan tahun 2013.

Kompetensi Kepsek

Secara epistemologi kepala sekolah adalah guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah.  Kepala sekolah adalah top leader dan manajer dalam entitas organisasi. Sebagai leader, dia harus melakukan hal yang benar, dan sebagai manajer dia harus melakukan hal dengan benar. Keberhasilan pendidikan di sekolah banyak ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah. Berbagai riset menunjukkan betapa pentingnya peran Kepala Sekolah. Hasil penelitian Stronge (1988) menunjukkan bahwa dari seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kepala sekolah, hanya 10 persen yang dialokasikan untuk kepemimpinan pembelajaran.

Sampai sekarangpun banyak kepala sekolah yang masih menyeimbangkan perannya sebagai manager, administrator, supervisor, dan instructional leader (kepemimpinan pembelajaran). Untuk memantapkan core competence Kepala Sekolah, maka kompetensinya pun harus diuji. Hasilnya akan menjadi distinctive competence. Bukti inilah yang membawa kepala sekolah patut diberikan penghargaan sertifikasi atas keberhasilannya menunjukkan bukti kompetensidan kemampuan kepemimpinan pembelajaran di sekolah.

Kompetensi Pengawas

Sebagai supervisor pendidikan atau pengawas pendidikan, pada dimensi pengawasan akademik, pengawas sekolah bertugas membantu dan membina guru meningkatkan profesionalnya agar dapat mempertinggi kualitas proses dan hasil belajar siswa. Sedangkan yang berkaitan dengan pengawasan manajerial, pengawas sekolah bertugas membantu kepala sekolah dan seluruh staf sekolah agar dapat meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan pada sekolah yang dibinanya lebih efektif.

Sebagai bentuk akuntabilitas atas kinerja yang ditunjukkan, pengawas pun diuji kompetensinya dalam pembinaaan kepala sekolah, guru dan seluruh staf. Sebagai kesimpulan, yang menjadi penentu kualitas pendidikan dasar dan menengah adalah Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah ditambah kurikulum, manajemen pendidikan dan fasilitas. Sedangkan pada sisi triangle test proses pengujian berlangsung secara bottom-up yaitu dari UNAS ke UKG, UKKS dan UKPS. Apresiasi guru sangat patut dipersembahkan untuk guru, karena merekalah yang mencerdaskan anak bangsa, bahkan pada puncak gelar jabatan dosen adalah guru besar, tak satupun sumber yang menyatakan dosen besar. Dirgahayu HUT Guru 2012, semoga engkau tetap eksis ditengah gencarnya era keunggulan kompetitif. (Tribun Timur)

————————————–

*Andi Nasrum, Guru SMP Negeri 1 Bulukumba Kabupaten Bulukumba, Provinsi   Sulawesi Selatan, sekarang Tugas Belajar di MM-UGM Jogjakarta.

Dimuat di Harian Tribun Timur, Makassar, Sulawesi Selatan.

About smpn2pagerwojo

Blog SMP Negeri 2 Pagerwojo, Tulungagung

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Banner


%d blogger menyukai ini: