you're reading...
Kolom Guru

Guru Dalam Dilema Anarkisme

Oleh Wahyudin*

Belum lagi usai upaya mediasi dan terapi pasca tawuran antarsiswa, tempo hari. Suguhan tindak anarki kembali terjadi dan mengusik nurani. Kali ini, tawuran antar mahasiswa terjadi, di UNM (kompas, 11/10/2012). Tak habis pikir, kadang terjadinya tawuran dipicu oleh persoalan sepele. Ironisnya, ini terjadi di institusi pendidikan yang selama ini mengajarkan ilmu pedagogi dan budi pekerti. Anarkisme tampaknya sudah menjadi budaya baru generasi bangsa ini, bersemayam seperti penyakit epidemis. Kaum terdidik yang semestinya menjadi cermin etika dan keteladanan, justru menjadi pemantik bagi kobaran api anarkisme.

Tingkah laku yang mengumbar keberingasan ini, seperti “dendam kesumat” yang tak berkesudahan. Kalau pun ada responsi dari pihak terkait untuk menyelesaikan. Namun, itu sekedar menutupi aib diri karena masalahnya sudah terlanjur terjadi. Kalau indikasi akan terjadinya aksi anarki sudah dapat terdeteksi sejak dini, mestinya langkah preventif bisa segera dilakukan. Mungkin berlebihan jika tawuran antarsiswa dan antarmahasiswa dikatakan sebagai cerminan kegagalan pendidikan. Tetapi, gejala tidak sehat ini indikasi dari berbagai masalah pelik yang dihadapi dunia pendidikan.

 

Dilema Guru

Di tengah sengkarut anarkisme ini, peran dan tanggung jawab guru kembali dipertanyakan. Kegagalan pendidikan bersinggungan langsung dengan tugas guru sebagai pendidik yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, juga budi pekerti. Berbagai tudingan muncul, mengecam guru sebagai orang yang tidak becus mengurus anak didiknya. Guru pun dihadapkan dengan tensi dilema yang amat pelik. Guru seperti berada di simpang jalan antara menjalankan kewajiban dan tuntutan untuk bisa sempurna sebagai pengajar etika dan teladan bagi anak didiknya. Citra guru “Oemar Bakri” menjadi ironi yang tak habis dimengerti sampai kini.

Guru dituntut untuk terus berbenah menuju kesempurnaan wujud pedagogi-nya. Mengupayakan agar pendidikan budi pekerti (akhlak al-karimah) tidak hanya menyentuh ranah kognitif, melainkan juga harus berdampak positif terhadap ranah afektif dan psikomotorik yang tampak pada sikap dan perilaku anak didik dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan sekarang cenderung hanya sekedar transfer of knowledge dan bukan transfer of personality. Guru pun dinilai belum bisa menempatkan diri sebagai teladan baik bagi siswa untuk mengembangkan kepribadiannya. Ditambah lagi dengan belum adanya sinergi baik antara pendidikan sekolah, keluarga dan masyarakat.

Dalam konsepsi Ki Hadjar Dewantara, pendidikan yang baik harus dapat mengintegrasikan pendidikan budi pekerti dalam pembelajaran.  Yaitu pembelajaran yang mengintegrasikan tiga sifat; ngerti (learning to know), ngrasa (learning to believe), dan nglakoni (learning to do). Ketiga sifat tersebut harus saling bersinergi agar nilai yang ditanamkan bukan sekadar pengetahuan saja tetapi menyatu dalam diri anak didik. Selain itu, seperti petuah Ki Hadjar Dewantara, guru juga harus bisa; momong, among, dan ngemong.

 

Rendahnya Kompetensi

Pendidikan sejatinya upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup (Quality of Life). Dengan bertambahnya pengetahuan, mestinya juga akan menambah kearifan dalam hidup. Pendidikan diarahkan untuk dapat menumbuhkan sikap empati, bekerjasama dan saling menghargai dengan orang lain sehingga keadilan itu dapat dirasakan. Ini semua dapat memupuk fondasi bagi karakter diri yang terbuka. Tidak picik dan sinis terhadap perbedaan dan terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru.

Sayangnya, di tengah kesejahteraan guru yang semakin meningkat dengan meratanya sertifikasi, tidak membuat guru mampu membaca dengan baik kondisi ini. Bertambahnya “kemakmuran” tidak diikuti dengan bertambahnya pengetahuan dan kompetensi diri. Guru justru terlihat asyik dan terlena dalam konsumerisme. Banyaknya guru yang gagal dalam UKG online, bisa sebagai penanda –mesti bukan satu-satunya–  masih rendahnya kompetensi guru.

Saat marak kasus kriminal penyalahgunaan teknologi yang melibatkan siswa, banyak guru masih gagap teknologi. Saat siswa demikian mahir berselancar di dunia maya dan menemukan hal-hal baru, yang itu membutuhkan pendampingan, guru masih terlihat kikuk menata jemarinya di keyboard komputer. Saat jejaring pertemanan maya mendominasi pergaulan siswa, yang membuka peluang Cyber Crime terjadi karena minimnya pengawasan, guru masih terlihat lambat menggerakkan tetikus (mouse) untuk sekedar mengklik browser. Jelasnya, jika guru tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang ditandai pesatnya teknologi, bagaimana akan mampu memberikan pendampingan dalam penggunaan teknologi secara positif.

Anarkisme bisa tersulut dari komentar sepele pada status jejaring maya. Faktanya, saat guru merasa tidak ada masalah dengan aktivitas anak didiknya selama di sekolah, tawuran antarsiswa malah terjadi. Anarkisme bisa terjadi melalui kontak inten antarsiswa di jejaring maya, yang itu sulit diantisipasi guru karena lambat menangkap sinyal anarkisme ini, sejak awal. Bagaimana guru bisa menangkap sinyal anarkisme itu, kalau guru masih awam atau gagap teknologi?

 

Tantangan Berat Guru

Lingkar anarkisme ini mungkin saja terus berputar kalau tak ada upaya serius untuk mencegahnya. Guru sebagai pendidik, harus berada di garis terdepan dalam mengantisipasi anarkisme ini. Anarkisme dan sejumlah persoalan pendidikan lainnya menjadi tantangan yang tak mudah dihadapi, bahkan di masa-masa mendatang. Namun, tuntutan profesi dan jiwa pendidik mestinya membuat guru tak gentar menghadapi semua tantangan itu.

Guru harus mampu berbenah diri dan bijak dalam menyikapi setiap tantangan zaman. Guru tak boleh alergi dengan perubahan. Tanggung jawab sebagai pendidik,  kadang menuntut sebuah perubahan perilaku dan cara berfikir dari problem based menjadi solution based. Sebuah paradigma perubahan bahwa guru bukan lagi bagian dari masalah, namun mampu berkontribusi dalam memberikan solusi dengan mengoptimalkan potensi cipta, rasa, karsa yang dimilikinya, sekaligus meminimalkan potensi hawa nafsunya (Rhenald Kasali, Re-Code Your Change DNA).

Maka,guru perlu mengatur langkah diri untuk berusaha selalu mengatakan dan melakukan sesuatu yang benar (doing the right things). Karena perbuatan guru menjadi cermin nyata bagi anak didiknya. Di sinilah, guru berkepentingan untuk selalu mencoba “to make the best of things”.

*) Guru SMPN 2 Pagerwojo, Tulungagung,  Sekarang Tugas Belajar di MM UGM Yogyakarta.

Dimuat di Koran Bangsa, Tulungagung, Edisi 20/ 16-27 Oktober 2012

About smpn2pagerwojo

Blog SMP Negeri 2 Pagerwojo, Tulungagung

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Banner


%d blogger menyukai ini: