you're reading...
Kolom Guru

Tawuran Pelajar Dan Kesalihan Sosial

Oleh Wahyudin*

Tawuran nampaknya telah menjadi budaya baru anak bangsa. Hampir semua media massa memberitakannya, bahkan ada yang memuat sebagai rubrik utama. Melihat catatan Komisi Perlindungan Anak (KPA), mengenai tawuran pelajar ini, sungguh membuat miris.  Dalam kurun waktu tiga tahun, sebanyak 301 peristiwa tawuran pelajar terjadi di Jabodetabek, sebanyak 46 orang pelajar tewas sia-sia. Sementara, untuk tahun 2012 ada 103 kasus tawuran dengan jumlah korban tewas 17 orang (viva.co.id, 27/9/2012).

Terus berulangnya tawuran pelajar yang memakan banyak korban ini, dinilai karena pihak-pihak terkait tidak optimal melakukan pencegahan. Negara terkesan absen dalam problematika tawuran pelajar. Selama bertahun-tahun, instansi-instansi terkait tidak melakukan pencegahan secara terintegrasi dan optimal (Kompas.com, 27/9/2012).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh, menilai ini bukan lagi masalah pendidikan atau sekolah biasa. Namun, kemungkinan karena beratnya beban sosial yang ditanggung para pelajar, dari kehidupan keluarga dan kondisi lingkungan. Masalah tersebut kemudian mempengaruhi kondisi mentalnya. Dalam usia muda, dengan emosi yang kurang terkontrol, ekspresi dari beban sosial itu bisa tersalurkan melalui tindakan-tindakan yang melanggar hukum (Kompas.com, 26/9/2012).

Ternyata, masalahnya tidak sekedar letupan emosi liar yang mengalir dalam darah muda pelajar. Pengaruh lingkungan sangat berdampak bagi perkembangan jiwa mereka. Jawaban puas setelah membunuh, yang dilontarkan oleh siswa pelaku pembunuhan, menjawab pertanyaan Mendikbud, adalah gambaran kondisi jiwa yang sedang sakit. Sangat mungkin, itu karena pengaruh banyaknya perilaku kekerasan yang terjadi di masyarakat, mulai dari lingkungan terkecil seperti keluarga, hingga lingkungan terbesar, negara. Selain itu, media massa turut juga berperan dalam pembentukan karakter pelaku tawuran. Banyak media menayangkan aksi kekerasan tanpa melakukan sensor yang semestinya.

Diakui atau tidak, tawuran pelajar ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. Sepertinya, pendidikan karakter bangsa sebagai pilar pendidikan generasi seakan berjalan di tempat. Ini adalah tantangan berat dunia pendidikan. Namun, menjatuhkan kesalahan sepenuhnya pada dunia pendidikan, jelas bukan tindakan yang bijak. Karena, membentuk pribadi yang salih tidak hanya menjadi tugas sekolah, sebagai institusi pendidikan. Tetapi, melibatkan pula peran serta lingkungan keluarga, masyarakat, bahkan negara.

Keluarga bertanggung jawab memberikan teladan yang baik pada anak-anaknya, menerapkan nilai-nlai kebajikan akan sangat tepat jika dilakukan sejak dini di lingkungan keluarga. Masyarakat bertanggung jawab memberikan pendidikan melalui mekanisme kontrol sosial yang mengarahkan pada kesalihan pribadi. Begitu pun, Negara bertanggung jawab menciptakan rasa nyaman dengan menerapkan aturan-aturan kehidupan yang mengantarkan pada kesalihan itu. Pengawasan ketat terhadap tayangan berbau kekerasan, eksploitasi pornografi, hedonistik, atau tayangan yang tidak mendidik lainnya perlu diberlakukan secara konsisten. Selain itu, pemberlakuan hukum yang tegas dan sangsi berat yang membuat jera patut dijatuhkan pada pelaku tanpa pandang bulu.

Namun, usaha ini membutuhkan kesungguhan dan sinergi dari semua elemen bangsa dalam pelaksanaannya. Mungkin itu akan membutuhkan cost yang tinggi. Namun, seperti ungkapan Mendikbud, Stop at all cost, berapa pun besarnya biaya yang harus ditanggung tidak menjadi soal asal persoalan ini bisa dituntaskan.

*) Penulis, Guru SMPN 2 Pagerwojo, Tulungagung, Jatim.
Sedang Tugas Belajar di MM UGM Yogyakarta.

About smpn2pagerwojo

Blog SMP Negeri 2 Pagerwojo, Tulungagung

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Banner


%d blogger menyukai ini: