you're reading...
Kolom Guru

Ujian Sekolah, Diragukan atau Dibutuhkan?

Oleh Yoce F. Abidano

Salah satu ketakutan di daerah bahkan mungkin menjadi isu Nasional adalah tentang  kemungkinan  banyaknya siswa yang tidak dapat mencapai batasan nilai rata-rata 5,50 atau tidak boleh ada nilai di bawah 4,00 dengan kata lain tidak lulus. Ketakutan dan kecemasan para siswa sudah menjadi ketakutan dan kekawatiran orang tua, berbagai cara orang tua memacu belajar anaknya agar siap untuk menghadapi UAN, bahkan kecemasan orang tua membuat sekolah juga merasa kawatir dengan hasil produk yang telah dididik dan dipersiapkan selama 3 tahun (SMP/SMA/SMK) jangan-jangan tidak lulus, “kredibilitas sekolah” saat ini dipertaruhkan diatas pundak para siswanya. Tambahan jam belajar, uji coba, bimbingan khusus dilakukan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan UAN, yang pada intinya proses belajar mengajar yang telah dilalui siswa dari kelas 1 hingga di kelas 3 masih diragukan. Kekawatiran sekolah menjadi kegelisahan sendiri bagi Pemerintah Daerah, Berbagai himbauan dicanangkan Pemerintah Daerah baik melalui Dinas Pendidikan maupun secara langsung diberikan kepada Kepala-Kepala Sekolah, tujuannya sama agar bisa mencapai  kelulusan yang terbaik. Berbagai survei pra-UAN dilakukan di sejumlah daerah yang menunjukkan proporsi siswa yang tidak lulus, cukup besar, bahkan hasil uji coba yang dilakukan sekolah baik itu uji coba mandiri, uji coba yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan maupun yang dilakukan oleh Bimbingan belajar, tidak terdapat perbedaan yang signifikan, yakni proporsi siswa tidak lulus cukup besar.

Kita melihat UAN tahun lalu, kelulusan siswa tingkat SMP/MTs Di Kota Mataram lulus 100%, yang menjadi pertanyaan apa masih perlukah kegelisahan dan ketakutan yang sama setiap tahunnya?. Ada apa dengan tahun lalu? , Tidak dapatkah kita belajar dari tahun lalu?.  Keikutsertaan nilai sekolah dalam penentuan kelulusan siswa sangatlah berarti, kontribusi yang cukup besar mempengaruhi kelulusan siswa. Nilai ujian praktek dan ujian sekolah sudah bukan “barang” yang ditakuti walaupun bertajuk “ujian”, sangat kontras dengan kata yang sama pada “Ujian Akhir Nasional”, dengan Standar Kelulusan yang telah diberikan bahkan kisi-kisi soal yang telah dipelajari bersama dan diberikan pada saat uji coba-uji coba yang dilakukan. Ujian Sekolah menjadi “barang” yang dipakai untuk menghantar kelulusan siswa, walaupun perbedaan nilai mata pelajaran yang sama diujikan oleh sekolah dan Nasional sangat kontras.

Ketika seorang guru hendak membubuhkan nilai “kurang” pada lembaran daftar nilai yang harus diserahkan pada urusan kurikulum, terjadi peperangan yang sangat berat. Dilema keprofesionalan  dan masa depan siswa dipertaruhkan, apakah para guru akan “menghancurkan” atau “mengabaikan” proses belajar yang telah berlangsung selama 5 semester lebih dengan hasil tuntas pada setiap lembaran raport atau  antara kebenaran dan kemanusiaan terpampang didepan mata. Ada guru yang sampai menitikan air mata sambil membubuhkan nilai, dengan berharap agar siswanya tersebut pada akhirnya dapat lulus. Ada apa dengan ujian sekolah?

Refeleksi tahun yang lalu, kekhawatiran itu tidak terbukti karena setelah hasil UAN diumumkan ternyata siswa yang tidak lulus, persentasenya sangat kecil, ketakutan dan kekhawatiran tidak terbukti, kegembiraan siswa, orang tua, sekolah bahkan Pemerintah Daerah tergambar jelas, walaupun masih menggunakan konversi nilai. Kebijakan konversi nilai UAN ini menuai kritikan. Salah satunya, tabel konversi nilai UAN dianggap sebagai upaya subsidi silang, menolong siswa yang kurang pandai dengan merugikan siswa yang pandai. Pro dan Kontra tetap akan terjadi pada setiap kebijakan yang ada, tapi apakah hal tersebut esensial atau tidak?.

Pendapat yang mendukung agar UAN tetap dipertahankan antara lain didasarkan kepada argumentasi tentang pentingnya UAN sebagai pengendali mutu pendidikan secara nasional dan pendorong bagi pendidik, peserta didik, dan penyelenggara pendidikan untuk bekerja lebih keras guna meningkatkan mutu pendidikan (prestasi belajar).

Untuk saat ini Ujian Akhir Nasional dan ujian sekolah itu mutlak diperlukan karena bisa mendorong para siswa belajar lebih serius dan juga berguna untuk mengukur sejauh mana keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Apakah ujian akhir nasional sebagai satu-satunya penentu kelulusan siswa ataukah digabung dengan ujian akhir sekolah, sah-sah saja diperdebatkan. Dan wacana kebijakan pemerintah dalam menambah mata pelajaran dalam UAN menjadi 6 mata pelajaran pun sah – sah saja di perdebatkan, asal pemerintah mengimbangi kebijakan tersebut dengan melengkapi sarana maupun prasarana di seluruh sekolah secara merata (terlebih sekolah di daerah-daerah).

Namun, yang paling penting dari permasalahan dan perdebatan itu adalah bagaimana membentuk kultur sekolah (school culture) yang memiliki komitmen dengan nilai-nilai Religus dan berbudaya yang menjadi spirit, acuan, dan iklim kehidupan bagi guru, murid, maupun karyawan sekolah. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia agar memiliki pengetahuan, Keterampilan dan teknologi yang handal sehingga mampu meningkatkan daya saing daerah, dan menjadi tempat pembelajaran masyarakat (learning society) Sesuai dengan Visi dan Misi Kota Mataram.

*) Guru SMPN 4 Mataram, NTB, Mahasiswa MM-UGM Yogyakarta

Dimuat di Kolom Opini, Lombok Pos (Jawa Pos Grup), Sabtu, 31 Maret 2012.

About smpn2pagerwojo

Blog SMP Negeri 2 Pagerwojo, Tulungagung

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Banner


%d blogger menyukai ini: