you're reading...
Berita Sekolah

Menikmati Pagi di Pantai Parangtritis

Sepenggal Catatan Perjalanan Karya Wisata

Matahari tak menampakkan wajah cerahnya di pagi itu, Senin (19/12/2011). Mungkin karena mendung yang memenuhi separuh kaki langitnya. Namun, ombak besar yang bergulung ritmis ke bibir pantai menebarkan buih putih yang memikat. Sejumlah anak berseragam merah hitam, tampak berlarian dengan riang menyusuri bibir pantai itu. Gundukan-gundukan pasir yang tinggi di sekitarnya, menjadi tempat bermain yang mengasyikkan. Anak-anak dari sekolah gunung itu tampak bergembira dan saling berkejaran satu dengan lainnya. Sesekali terdengar gelak tawa diantara mereka. Suasana pagi itu pun masih terasa mengasyikkan, walau langit di pantai ini tersaput oleh mendung.

Anak-anak itu adalah siswa UPTD SMP Negeri 2 Pagerwojo (Sang Dewo) yang tengah melakukan karya wisata. Ada sekitar 114 orang mengikuti kegiatan ini. Sebanyak 80 orang adalah siswa dan sisanya adalah para pendamping yang terdiri dari guru, karyawan, komite dan beberapa wakil dari orangtua siswa. Adapun, tempat wisata yang akan dikunjungi adalah Pantai Prangtritis, Candi Borobudur, Keraton Yogyakarta, dan Taman Pintar.

Pantai Parangtritis menjadi tempat wisata yang pertama kali kami kunjungi. Usai melewatkan kepenatan dengan menikmati sarapan pagi dan segelas teh panas di rumah makan Laris, kami bergegas menuju ke pantai ini. Pantai kebanggaan rakyat Yogyakarta ini menjadi tujuan wisata yang banyak diminati oleh para wisatawan. Selain debur ombaknya yang besar, gunung pasirnya yang luas dan bukit tebing kapurnya yang putih, pantai ini juga menjadi tempat untuk menikmati sunrise pagi hari yang sangat memikat.

 

Menuju Candi Borobudur

Pasca gempa yang terjadi beberapa waktu lalu, Candi Borobudur sempat ditutup untuk para wisatawan. Debu-debu vulkanik yang menutupi hampir seluruh permukaan candi, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dibersihkan. Selain itu, pembersihan candi dari debu-debu vulkanik tersebut juga menghabiskan biaya yang tak kalah besar. Beruntung sekali, saat itu kami bisa memasuki area dan menyusuri beberapa sudutnya dengan leluasa, bahkan sampai ke puncaknya.

Namun, ada sebuah aturan baru yang harus ditaati oleh para pengunjung sebelum memasuki area candi, yaitu mereka harus memakai kain sarung yang dililitkan ke pinggang, jika ingin memasukinya. Aturan ini diberlakukan sebagai bentuk penghormatan, mengingat candi ini merupakan tempat peribadatan bagi umat Buddha. Candi Borobudur dibangun oleh Dinasti Syailendra yang beragama Buddha pada abad ke-8. Tak banyak yang diketahui tentang awal berdirinya, namun yang jelas dibutuhkan ribuan pekerja untuk merampungkan bangunan bersejarah ini. Apalagi untuk mengukir 60.000 meter kubik batu vulkanik yang menjadi bahan dasar pembuatan candi ini, tentu memerlukan keahlian khusus yang mumpuni.

Sekarang, kita bisa menikmati karya ukir batu yang luar biasa dari para pemahat terampil itu pada dinding-dindingnya. Pada dinding Candi Borobudur terukir relief yang berisi ajaran Buddha sepanjang 6 km. Hal ini dipuji sebagai ansambel relief Buddha terbesar dan paling lengkap di dunia, sebagai mahakarya yang utuh dan luar biasa.



Selain itu, relief Borobudur juga menandakan kemajuan masyarakat Jawa pada saat itu. Salah satu reliefnya menggambarkan bentuk kapal yang digunakan pelaut-pelaut dari Jawa untuk berlayar hingga Benua Afrika pada abad ke-8, jauh sebelum pelaut-pelaut Portugis melakukannya. Atas inisiatif Philip Beale dari Inggris, pada tahun 2003 dilakukan rekonstruksi untuk membangun replika kapal berdasarkan relief itu yang kemudian digunakan untuk berlayar menyusuri The Cinnamon Route dari Pulau Jawa ke Benua Afrika. Kini kapal tersebut dikenal sebagai Kapal Borobudur dan disimpan di Museum Kapal Samudraraksa yang berada dalam kompleks Candi Borobudur.

Keasyikan menikmati suasana Borobudur membuat kami hampir melupakan agenda kunjungan berikutnya yang harus dirampungkan hari itu juga. Akhirnya, lepas dari Candi Borobudur, rombongan Sang Dewo bertolak menuju Keraton Yogyakarta.

 

Keraton Yogyakarta Museum Hidup Kebudayaan Jawa

Sinar Matahari terasa masih menyengat, saat rombongan kami sampai di Keraton Jogja. Memasuki gerbang keraton, kami mendengar dendangan tembang-tembang Jawa yang berasal dari ruang dalam keraton, yang dilagukan oleh para abdi dalem. Sejumlah siswa tampak asyik menyimak tembang-tembang Jawa ini, walau mungkin banyak yang sulit mereka mengerti. Sementara, beberapa rekannya yang lain terlihat sibuk mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya. Kalau tak ingat harus melanjutkan perjalanan, mungkin kami akan merasa betah tinggal berlama-lama di tempat ini. Lepas itu, kami menyusuri beberapa sudut lain dari keraton untuk melihat peninggalan sejarah lainnya yang tak kalah menarik.

Kraton Yogyakarta ini merupakan pusat dari museum hidup kebudayaan Jawa yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak hanya menjadi tempat tinggal raja dan keluarganya semata, Kraton juga menjadi kiblat perkembangan budaya Jawa, sekaligus penjaga nyala kebudayaan tersebut. Di tempat ini kita dapat mempelajari secara langsung budaya Jawa yang sampai saat ini masih tetap terawat dan terjaga. Konon menurut sejarahnya, Keraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755, beberapa bulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. Meski sudah berusia ratusan tahun dan sempat mengalami kerusakan akibat gempa besar pada tahun 1867, namun bangunan Keraton Yogyakarta ini tetap berdiri dengan kokoh dan terawat dengan baik hingga kini.

Ada banyak hal menarik yang dapat disaksikan di Kraton Yogyakarta, mulai dari aktivitas abdi dalem yang sedang melakukan tugasnya atau melihat koleksi barang-barang Kraton. Koleksi tersebut tersimpan dalam kotak kaca yang tersebar di berbagai ruangan. Muatannya cukup bervariasi mulai dari keramik dan barang pecah belah, senjata, foto, miniatur dan replika, hingga aneka jenis batik beserta deorama proses pembuatannya.

Setelah beberapa saat lamanya berjalan mengitari Kraton Yogyakarta, kami kembali melangkahkan kaki keluar dari regol menuju ke tempat parkir. Tanpa terasa waktu pun bergerak cepat mendekati sore. Dengan terpaksa kami harus meninggalkan keraton, meski kami belum bisa menikmati sepenuhnya tempat bersejarah ini. Tapi itu kami rasa cukup, dan kami harus melanjutkan kembali perjalanan menuju Taman Pintar, tempat terakhir tujuan karya wisata ini.

Belajar Banyak di Taman Pintar

Taman Pintar menjadi tujuan terakhir karya wisata kami. Begitu memasuki pintu gerbang, kita langsung disambut oleh area yang disebut sebagai Playground Arena. Jalan masuk dari pintu gerbang terbagi menjadi 2 bagian yang dipisahkan oleh sebuah koridor yang terdiri atas 3 tiang berbentuk segitiga di masing-masing sisinya. Di ujung koridor ada sebuah gong yang berisi tulisan “Gong perdamaian Nusantara (sarana persaudaraan dan pemersatu bangsa)”. Di sekeliling gong tersebut terlihat lambang dari semua propinsi dan kabupaten di seluruh Indonesia.

Banyak wahana permainan yang ditawarkan tempat ini. Selain dari berbagai permainan yang menarik dan mendidik, tempat ini juga memiliki gedung yang unik dari mulai gedung oval sampai kotak.  Permainan-permainan yang ada di dalamnya dirancang khusus untuk meningkatkan minat siswa terhadap sains, diantaranya adalah Parabola berbisik. Yang unik dari parabola ini adalah jika ada salah satu orang membisikkan sebuah kalimat ke parabola yang ada di depannya, maka orang lain yang ada di depan parabola yang satunya lagi akan bisa mendengar kalimat itu. Selain itu ada juga yang namanya Dinding Berdendang adalah sebidang tembok berwarna merah yang ditempeli gendang-gendang dengan berbagai macam ukuran yang jika dipukul akan menghasilkan suara-suara dengan nada yang berbeda. Permainan ini menggambarkan hubungan antara tinggi rendahnya nada dengan luas permukaan gendang.

Masih banyak lagi wahana menarik lainnya yang ingin kami nikmati. Namun, karena harus berburu dengan waktu kami harus menyudahi kunjungan ini. Secara umum, kami pikir Taman Pintar ini cukup mendidik, sehingga layak untuk dikunjungi utamanya bagi para pelajar.

Sinar Matahari mulai meredup dan tinggal sedikit lagi mendekati malam. Kami harus menyudahi kunjungan ini dan kembali ke Tulungagung. Dua bus yang membawa rombongan ini pun melaju kencang menyusuri jalanan Jogja dan menembus perjalanan malam hingga sampai di titik 02.00 dini hari. Tulungagung tampak begitu sepi dan lengang saat kami turun dari bus dan kembali ke rumah masing-masing. Meski mungkin cukup melelahkan, karya wisata ini cukup memberikan wawasan dan pengalaman yang baik bagi anak didik kami. Mudah-mudahan kita dapat mengambil banyak pelajaran. (Gendut/Heru/Tantra)

About smpn2pagerwojo

Blog SMP Negeri 2 Pagerwojo, Tulungagung

Diskusi

6 thoughts on “Menikmati Pagi di Pantai Parangtritis

  1. mantafff n nikmat bro … belajar sama rekreasi … lanjutkan trus … bravo smp dewo … raih prestasi di puncak tertinggi

    Posted by Heru Widiharto | 16/01/2012, 09:31
  2. selamat dan suksessang dewo..moga jd media belajar yang menarik bagi siswa dewo

    Posted by pak ndut | 06/02/2012, 09:24
  3. oke bos..inspiratif poolll…bisa bisa..

    Posted by febri | 24/02/2012, 09:37
  4. tour ke jogja dengan tujuan,
    parangtritis,borobudur,prambanan,keraton jogja danmalioboro itu urutan pertama yang harus di mulai dari mana dulu.urut-urutan yang bisa dinikmati semua wisata itu (berangkat sabtu malam dari arah jawa timur/kediri) balas pak broo…

    Posted by toyib | 17/11/2013, 16:49
    • Sorry, baru buka blog, Bang Toyib. Kalau kita kemarin, berangkat malam sekitar 20.00, tiba di Jogja 03.00an. Mampir dulu di RM Sandi, terus ke Borobudur. kemudian dilanjutkan ke Kraton, sekaligus ke Taman Pintar dan Malioboro. Pengalaman sebelumnya Parang tritis kita jadikan tujuan pertama, berikutnya yang terakhir. Menurut kami, baiknya yang ke Borobudur pagi sebelum siang karena suasana panas tidak nyaman sekali, sangat terasa di Borobudur. Candi Prrambanan dijadikan tujuan terakhir setelah dari Parang Tritis.Tapi, itu dengan asumsi disiplin waktunya mesti di jaga. Sepertinya ada satu tujuan wisata yang harus dikorbankan, dengan waktu yang begitu pendek tidak mungkin bisa menikmati semuanya. Kalau pun bisa sangat tidak mengenakkan.

      Posted by smpn2pagerwojo | 04/12/2013, 12:08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Banner


%d blogger menyukai ini: